100 Orang Rohingya Ditemukan Dalam Perjalanan Ke Malaysia

100 Orang Rohingya Ditemukan Dalam Perjalanan Ke Malaysia

100 Orang Rohingya Ditemukan Dalam Perjalanan Ke Malaysia. Krisis kemanusiaan yang terjadi terhadap etnis Rohingya masih terus terjadi hingga saat ini.

Baru-baru ini, satu kapal yang memuat lebih dari 100 Muslim Rohingya yang melarikan diri dari sebuah kamp di Myanmar.

Ditemukan di lepas pantai Selatan negara itu setelah menghabiskan 15 hari di laut. Kabarnya, mereka ini sedang dalam perjalanan untuk menuju Malaysia.

100 Orang Rohingya Ditemukan Terombang-Ambing, Kehabisan Bahan Makanan

Sebanyak 100 orang ditemukan mengambang (terombang-ambing) di perahu kayu di Laut Andaman di lepas pantai kota Kyauktan satu jam di sisi selatan ibukota komersial Myanmar, Yangon, kata polisi kepada AFP.

Warga Rohingya di dalam perahu mengatakan di antara kelompok mereka tersebut ada 23 anak dan seorang gadis yang telah meninggal dunia “sekitar sembilan hari yang lalu”.

“Seorang gadis meninggal di laut … dia belum makan dan telah minum air laut,” kata Eilia, 35 tahun. Dia juga menambahkan keterangan bahwa perahu telah kehabisan bensin.

Kebanyakan dari kelompok pria mengatakan mereka berasal dari berbagai kamp Rohingya di Sittwe, ibukota negara bagian Rakhine. “Kami meninggalkan daratan 15 hari yang lalu dan akan pergi ke Malaysia,” kata seorang pria muda Rohingya, yang segera dilarang berbicara kepada wartawan oleh polisi.

Kelompok ini dikawal oleh anggota Palang Merah setempat dan petugas imigrasi ke kotapraja Kyauktan dengan menggunakan delapan van, dengan empat polisi bersenjata di setiap kendaraan. Setibanya di Kyauktan mereka diberi tempat berlindung di balai desa.

100 Orang Rohingya Ditemukan Trauma Akan Tindakan keras Brutal

Etnis Muslim, minoritas yang tidak berkewarganegaraan menghadapi penganiayaan yang kian meluas di Myanmar,

Dan lebih dari 120.000 orang dipaksa tinggal di kamp-kamp di negara bagian Rakhine.

Setelah kekerasan antar-komunitas meletus di antara mereka dan etnis Rakhine pada tahun 2012.

Ya, bertempat di bawah kondisi suram, warga Rohingya – yang telah ditolak kewarganegaraannya di Myanmar – tidak memiliki kebebasan bergerak dan kurangnya akses pendidikan dan kesehatan.

Eilia mengatakan mereka telah meninggalkan kamp mereka karena kekurangan makanan.

“Ransum makanan yang mereka berikan tidak cukup,” katanya. “Kami diberitahu bahwa kami akan mendapatkan pekerjaan dan dapat makan jika kami pergi (ke Malaysia).”

Seorang pemimpin kamp dari Sittwe menegaskan bahwa kelompok itu telah pergi dua minggu yang lalu. “Mereka meninggalkan 15 hari yang lalu untuk mencoba pergi ke Malaysia,” kata Kyaw Tin kepada AFP.

“Mereka pergi diam-diam … Kami baru tahu ketika mereka punya masalah, sekitar tiga hari yang lalu.”

Lebih dari 720.000 orang Rohingya telah melarikan diri dari negara bagian Rakhine ke Bangladesh setelah tindakan keras brutal oleh militer Myanmar pada bulan Agustus 2017.

Mereka yang melarikan diri ke kamp-kamp pengungsi yang penuh sesak di Bangladesh trauma akan tindakan pemerkosaan, pembunuhan dan pembakaran yang dilakukan oleh militer.

Kedua pemerintah menandatangani perjanjian repatriasi tahun lalu, yang akan dimulai pada hari Kamis.

Myanmar mengatakan mereka siap untuk menerima lebih dari 2.200 orang Rohingya agar kembali ke kamp-kamp pemukiman.

Tetapi tidak ada warga Rohingnya yang menerima tawaran itu. Banyak yang menyebut adanya rasa takut yang berlebih karena tidak ada jaminan keamanan dan kewarganegaraan.

Juru bicara UNHCR, Aoife McDonnell mengatakan “kemajuan konkret”

Diperlukan bagi komunitas tanpa negara untuk menikmati hak-hak dasar di negara bagian Rakhine.

“Dengan prospek pergerakan kapal meningkat setelah akhir musim hujan, semakin mendesak bagi pihak berwenang untuk mengambil langkah-langkah untuk mengatasi akar penyebab pemindahan,” kata McDonnell.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *