Mario Mandzukic Pemain Terbaik Juventus VS Monaco

Juventus baru saja memenangkan pertandingan melawan Monaco yang berlangsung di Juventus Stadium rabu dini hari WIB tanggal 10 Mei 2017.  Kemenangan itu tentu saja tidak terlepas dari peran para pemain, yang telah berjuang dari leg pertama hingga pertandingan selesai. Saat laga berlangsung, para penonton mungkin fokus pada salah satu pemain yaitu Daniel Alves. Ya, karena Alves berhasil menyumbangkan satu gold an satu assist. Tak hanya itu saja, Alves juga menjebol gawang Monaco dengan cara yang cukup spektakuler.

 

Mario Mandzukic Berperan Penting Dalam Kemenangan Juventus

Tapi, jika dilihat dengan kaca mata lain. Ya, dari sisi strategi penyerangan, ternyata ada nama yang patut diacungi jempol, Mario Mandzukic. Pria yang berusia 30 tahun itu, seharusnya mendapatkan ucapan terimakasih dari Juventus. Peran dari pemain asal Kroasia itu tak hanya berperan penting dalam pencetakan gol pertama yang dilakukan oleh Juventus di menit ke 33. Tapi dia juga memiliki andil yang besar dalam strategi yang diterapkan oleh Massimilliano Allegri, sang pelatih, terutama dalam menjaga penguasaan bola pada pertandingan yang baru saja terjadi.

 

Monaco yang menjadi lawan dalam pertandingan, mengalami perubahan skema, akibat salah satu pemainnya, Nabil Dirar mengalami cedera Judi bola saat pemanasan. Formasinya permainannya pun dirubah menjadi 3-4-1-2, yang sebelumnya 4-4-2. Hal tersebut tentu saja membuat para pemain Juventus perlu menyesuaikan diri dengan pola permainan anak didikan Leonardo Jardim.

 

Tak hanya itu saja, Monaco juga bermain dengan pressing garis pertahanan tinggi. Klub yang bermarkas di Stade Louis II itu terus berupaya untuk mengganggu build up serangan dari The Old Lady, karena biasanya diawalnya dari umpan pendek Gianluigi Buffon pada pemain belakang. Ditambah The Girlfriend of Italy masih memiliki Leonardo Bonucci, yang merupakan pemain bertahan.

 

Mario Mandzukic Sukseskan Duel Udara

Bila melihat laga yang berlangsung kemarin, para penonton dapat mengetahui kalau pressing Monaco telah membuat Buffon cs tak dapat melakukan umpan pendek, karena dapat terlihat kalau Juventus tidak sedikit mengandalkan umpan panjang langsung ke depan. Tapi meskipun begitu, umpan panjang dari Juventus, bukan berarti Bianconeri membuang bola secara sembarangan. Hal itu dapat dikatakan demikian, karena anak asuhan Massimilliano Allegri terus saja mengarahkan bola ke kedua sayap, selama pertandingan berlangsung.

 

Upaya tersebut dilakukan karena Juventus telah mengetahui kelemahan dari skema permainan yang diterapkan oleh Monaco. Dan pihak Juve ingin memanfaatkan semaksimal mungkin sisi kelemahan dari Monaco. Ya, lini pertahanan Monaco terlihat berantakan, setelah mereka gagal melakukan penyerangan. Lini transisi dari menyerang ke bertahan tidak terorganisir dengan benar.

 

Dan ternyata kekurangan Monaco dapat segera disadari oleh para pemain Juventus, sehingga dapat segera menguasai permainan, walaupun pada 15 menit awal, terlihat kerepotan mengimbangi anak-anak Leonardo Jardim.  Sehingga umpan-umpan panjang yang dilontarkan Buffon cs tidak membuat mereka lepas dari penguasaan bola. Dalam tindakan tersebut, tentu saja ada pemain yang berperan penting. Ya, Mario Mandzukic. Kenapa demikian? Karena Mario Mandzukic selalu dapat menjaga penguasaan bola, setiap kali ada bola panjang yang mengarah padanya. Tentu saja hal itu tidak mudah untuk dilakukan.

 

Penilaian tersebut dapat terbaca setelah melihat peran Mandzukic dalam laga yang dilakoninya. Dari 24 duel udara Juventus, ternyata 12nya dilakukan oleh Mandzukic. Tak hanya itu saja, dari dalam 12 duel udara, 10 diantaranya juga sukses dimenangkan oleh pria kelahiran Slavonski Brod, SPF Yugoslavia itu. Selain itu, dua kali operan kepalanya juga berhasil menjadi umpan kunci.

Terapkan Skema 3 Bek, Monaco Berhasil Ditaklukkan Juventus

Rabu dini hari WIB 10 Mei 2017, Monaco telah berhasil ditaklukkan oleh Juventus dengan skor 1-2 yang berlangsung di Juventus Stadium. Dengan hasil tersebut tentu saja dapat dipastikan bahwa langkah anak asuh Leonardo Jardim harus terhenti di semifinal pada Liga Champions 2016/2017. Maka, Juventus pun mengantongi tiket menuju final dengan agregat 4-1.

 

Monaco Terapkan Formasi Dengan 3-4-1-2

Pada 15 menit pertama pertandingan dimulai, Gianluigi Bufon cs memang terlihat kerepotan menghadapi lawannya, tapi setelahnya hingga leg kedua, Juventus nampak lebih superior dibandingkan Monaco. Tak hanya itu saja, laga yang dilangsungkan di kandang sendiri itu, membuat anak didikan Massimiliano Allegri nampak nyaman dan dominan ketika melakukan penyerangan.

 

Hal itu berbeda dengan sisi kubu Monaco, karena terjadi insiden yang tidak diinginkan. Ya, salah satu pemainnya, Nabil Dirar mengalami cedera ketika pemanasan. Padahal pria kelahiran 25 Februari 1986 itu telah dipersiapkan untuk bermain sejak di menit pertama. Karena terjadi kecelakaan tersebutlah, formasi andalan mereka 4-4-2, diganti menjadi 3-4-1-2.  Adanya perubahan tersebut tentu saja berdampak ekstrem pada tim.

 

Satu jam sebelum laga dimulai, pihak Monaco meluncurkan nama-nama pemainnya yang akan bertanding dan ada Nabil Dirar disana. Meskipun ada perubahan di bagian bek kanan Poker online karena telah disediakan Andrea Raggi, sedangkan gelandang tengah terdapat Joao Moutinho dan Tiemoue Bakayoko. Tapi saat Dirar cedera, nampak perubahan yang cukup besar, karena pada bagian sayap justru diisi oleh Benjamin Mendy, bukan Thomas Lemar. Padahal saat konferensi Pers, Leonardo Jardim mengungkapkan kalau Mendy belum pulih 100% dari cedera, sehingga tidak siap untuk berlaga.

 

Kegagalan Monaco Dengan 3 Bek

Pola bermain Monaco 3-4-1-2 hanya diterapkan saat menyerang saja, tapi ketika menguasai bola, pola formasinya 4-4-2 atau 4-2-3-1. Saat laga berlangsung, Kylian Mbappe bermain agak melebar ke kiri. Hal tersebut kemungkinan untuk mengekspoitasi sisi kanan pertahanan dari Si Nyonya Tua yang diisi Andrea Barzagli dan Daniel Alves.

 

Saat penerapan pola bermain yang demikian, nampak anak Jardim dapat menciptakan dua peluang di 15 menit pertama. Hal itu menunjukkan bahwa skema yang telah dibuat, terlihat efisien untuk menghadapi Bufon cs. Karena Juventus baru saja membuat peluang di menit ke 16. Tak hanya itu saja, Monaco juga menerapkan pressing dengan garis pertahanan yang tinggi.

 

Saat itu, Juventus nampak tidak siap dengan perbedaan pendekatan strategi yang diterapkan oleh Monaco pada leg pertama. Tapi ternyata, hal itu tidak berlangsung lama, karena Juventus perlahan dapat mengontrol laga. Mereka dapat menguasai bola lebih lama dan dapat melakukan serangan balik cepat. Meskipun begitu, untuk penyerangan, mereka menunggu saat yang tepat.

 

Skema yang baru saja dibentuk oleh Leonardo Jardim tidak menggoyahkan Juventus  terlalu lama, karena ternyata Buffon dkk dapat melihat kelemahannya. Hal itu terjadi saat lini pertahanan Monaco terlihat berantakan, setelah mereka gagal melakukan penyerangan. Lini transisi dari menyerang ke bertahan tidak terorganisir dengan benar dan rapi. Celah itulah yang dijadikan peluang untuk Juventus,

 

Situasi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Juventus untuk menjebol gawang Monaco. Saat gagal saat sepak pojok, Juventus meluncurkan serangan balik dari sisi kiri, dengan memanfaatkan Alex Sandro. Serangan berlanjut dengan adanya Paulo Dybala yang berada di depan kotak penalti. Dia sangat leluasa menguasai bola dan memindahkkan serangan ke bagian kanan, pada Daniel Alves. Kemudian Alves memberikan umpan secara silang tajam ke Mario Mandukic .